Apakah Dalam Berkeluarga Istri Wajib Patuh dan Nurut Pada Suami?

Di tengah kehidupan berkeluarga ada pandangan bahwa suami merupakan kepala rumah tangga. Dengan alasan itu, terkadang istri dituntut harus patuh dan nurut pada suaminya. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah dalam berkeluarga istri wajib patuh dan nurut pada suami itu sudah benar dan ideal?

 Suami Sebagai Pemimpin atau Kepala Rumah Tangga

Mengapa banyak suami dijadikan pemimpin? Berbagai pertimbangan menjadi penyebabnya. Yang utama adalah fisik. Mau diakui atau tidak, kaum Adam memang memiliki fisik yang lebih kuat ketimbang kaum Hawa. Meskipun ada pula yang sebaliknya. Hal itu dipengaruhi oleh kegiatan atau aktivitas sehari-sehari yang dilakukan masing-masing. Seorang suami yang kerjaannya makan tidur, tak akan sekuat dengan seorang istri yang ikut bergabung menjadi anggota TNI.

Terlepas dari itu semua, pada faktanya, kebiasaan yang dilakukan suami sejak kecil membuat fisik cenderung lebih kuat dari seorang istri. Ditambah lagi ada siklus datang bulan yang bisa membuat konsentrasi wanita buyar, tak nyaman dan lain sebagainya. Oleh sebab itu sangat wajar jika banyak pemimpin diambil dari kalangan suami dan itu bisa dimaklumi.

Keluarga adalah organisasi kecil. Petinggi dalam keluarga hanya dua, yaitu ayah dan ibu. Arah keluarga ditentukan oleh dua petinggi tersebut.  Karena suami memiliki fisik yang cenderung kuat, maka sudah selayaknya suami dijadikan pemimpinnya atau kita sebut sebagai kepala rumah tangga.

Baca Juga : Pacaran Tak Bahagia, Ini Tanda dan Cara Menghindari Toxic Relationship

Setelah suami menjadi kepala rumah tangga di keluarga, mau menerapkan system kepemimpinan yang seperti apa itu adalah pilihan. Otoriter atau demokrasi. Jika yang diterapkan adalah system kepemimpin keluarga yang otoriter, semua yang terjadi dalam lingkup keluarga ditentukan oleh suami. Sedangkan anggota keluarga yang lain seperti anak dan istri wajib patuh dan nurut apa kata suami.  Berbeda jika dalam keluarga menerapkan system demokrasi. Semua bebas memberikan pendapat, memberi masukan lalu memilih yang terbaik. Pilihan yang telah disepakati pun akan diperjuangkan bersama dengan sepenuh hati, tulus dan iklas karena sudah dirumuskan secara rasional dan itu dianggap hal terbaik. Selain itu, dalam keluarga akan terbiasa saling mengungkapkan pendapat. Keluarga menjadi saling terbuka dan lain sebagainya.

Ilustrasi pasangan yang saling melengkapi. (freepik)

Saling Melengkapi Dalam Berkeluarga

suami dan istri adalah sama-sama manusia yang memiliki potensi melakukan kesalahan. Baik suami dan istri dianugerahi akal budi yang bisa memberikan kontribusi terhadap hal baik. Oleh sebab itu, saling melengkapi dengan menerapkan demokrasi dalam keluarga adalah pilihan yang mungkin tepat. Suami memang kepala rumah tangga, tetapi kepala rumah tangga yang bijak dan tidak otoriter. Mungkin idealnya seperti itu. Bukankah segala kesulitan dalam menjalani hidup bersama akan lebih ringan jika dipikirkan dan dipikul bersama? Begitu pula dengan keberhasilan pun akan terasa nikmat jika keberhasilan tersebut adalah upaya bersama untuk mewujudkan kehidupan berkeluarga yang menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Benarkah Orang yang Sudah Menikah Lebih Bahagia daripada Single?

Hampir semua orang yang menjalin asmara bertujuan mencari sumber bahagia melalui cinta antar anak manusia. Namun, benarkah orang yang sudah menikah lebih bahagia daripada single?

Dari hasil studi yang dilansir oleh World of Buzz, yang diikuti oleh 7.532 orang menunjukkan, bahwa mereka yang sudah menikah tidak berarti lebih bahagia dari yang masih lajang. Dalam survei tersebut, partisipan diambil dari rentan usia 18-60 tahun, 79% sudah menikah, 8% lajang, dan 13% pernah mengalami kisah romansa seperti berpacaran dan bercerai.

Baca juga: Pacaran Tapi Nggak Bahagia, Ini Tanda dan Cara Menghindari Toxic Relationship

Hasilnya, orang yang menikah memiliki tingkat kebahagian dengan skala 4-5%. Sedangkan untuk yang single atau lajang berada di skala 3,8%. Selisihnya hanya 0,2% saja. Hasil penelitian tersebut ditulis dalam Journal of Positive Psychology dengan keterangan bahwa pernikahan tidak menjamin bisa hidup lebih bahagia daripada mereka yang berstatus single.

Namun di studi lain yang dilakukan oleh Journal of Happiness Studies dan dilansir oleh independent mengatakan bahwa, menikah membuat orang lebih bahagia dalam menjalani hidup. Lalu kita pun akan bertanya-tanya, mengapa riset memiliki hasil yang berbeda-beda? Benarkah menikah lebih bahagia daripada single?

Couple in a park. Woman in a gray coat. Man with his wife

Sumber Kebahagian yang Berbeda

Bahagia itu asalnya dari hati. Bahagia tentu beda dengan kesenangan. Meskipun tak jarang rasa bahagia berawal dari sebuah kesenangan seperti hobi.
Dalam menjalin rumah tangga, dua manusia berbeda hidup bersama. Tak hanya fisik, tetapi pemikiran yang berbeda. Jika dalam hidup bersama tidak bisa memupuk empati dan menghargai, maka kebahagiaan akan menjadi halusinasi belaka.

Ketika salah satu pasangan tak peduli. Pernikahan tak akan menghasilkan surga, tetapi justru neraka. Ketika umur sudah mulai menua, teman hidup akan menjadi tempat berbagi cerita dan mengurangi rasa kesepian. Di situlah hidup sebuah pernikahan menjadi bermakna. Semua memiliki rasa yang berbeda, tergantung waktu dan seberapa bisa pasangan menyatukan pemikiran berdasarkan empati ditambah dengan komitmen yang tinggi di tengah rutinitas hidup berkeluarga yang kadang membosankan. Bahkan ada yang menganggap penuh dengan kekangan. Tak bebas lagi seperti ketika masih lajang.

Masalah Ekonomi

Uang bukanlah segalanya, tetapi banyak hal yang bisa dilakukan kalau kita punya uang. Hancurnya sebuah kebahagian ketika menikah, beberapa disebabkan oleh perekonomian yang belum siap. Hidup saling berjauhan karena tuntutan pekerjaan. Tidak cukup biaya untuk bisa liburan bersama keluarga ketika penat dengan rutinitas. Tuntutan biaya kehidupan yang harus dipenuhi dan lain sebagainya.

Mempersiapkan Segalanya

Keputusan untuk menikah butuh persiapan yang matang. Tak hanya materi, tetapi mental. Jika kita belum punya pekerjaan dan memutuskan menikah, permasalahan tentu saja sudah ada di depan mata. Jika kita belum cukup dewasa dalam menerima perbedaan pendapat pasangan dan memutuskan untuk menikah, itu pun salah satu yang akan membuat keluarga dalam prahara. Bagaimana tidak, masalah kecil bisa besar jika tidak ada saling pengertian antara satu dengan yang lainnya.