Benarkah Orang yang Sudah Menikah Lebih Bahagia daripada Single?

Hampir semua orang yang menjalin asmara bertujuan mencari sumber bahagia melalui cinta antar anak manusia. Namun, benarkah orang yang sudah menikah lebih bahagia daripada single?

Dari hasil studi yang dilansir oleh World of Buzz, yang diikuti oleh 7.532 orang menunjukkan, bahwa mereka yang sudah menikah tidak berarti lebih bahagia dari yang masih lajang. Dalam survei tersebut, partisipan diambil dari rentan usia 18-60 tahun, 79% sudah menikah, 8% lajang, dan 13% pernah mengalami kisah romansa seperti berpacaran dan bercerai.

Baca juga: Pacaran Tapi Nggak Bahagia, Ini Tanda dan Cara Menghindari Toxic Relationship

Hasilnya, orang yang menikah memiliki tingkat kebahagian dengan skala 4-5%. Sedangkan untuk yang single atau lajang berada di skala 3,8%. Selisihnya hanya 0,2% saja. Hasil penelitian tersebut ditulis dalam Journal of Positive Psychology dengan keterangan bahwa pernikahan tidak menjamin bisa hidup lebih bahagia daripada mereka yang berstatus single.

Namun di studi lain yang dilakukan oleh Journal of Happiness Studies dan dilansir oleh independent mengatakan bahwa, menikah membuat orang lebih bahagia dalam menjalani hidup. Lalu kita pun akan bertanya-tanya, mengapa riset memiliki hasil yang berbeda-beda? Benarkah menikah lebih bahagia daripada single?

Couple in a park. Woman in a gray coat. Man with his wife

Sumber Kebahagian yang Berbeda

Bahagia itu asalnya dari hati. Bahagia tentu beda dengan kesenangan. Meskipun tak jarang rasa bahagia berawal dari sebuah kesenangan seperti hobi.
Dalam menjalin rumah tangga, dua manusia berbeda hidup bersama. Tak hanya fisik, tetapi pemikiran yang berbeda. Jika dalam hidup bersama tidak bisa memupuk empati dan menghargai, maka kebahagiaan akan menjadi halusinasi belaka.

Ketika salah satu pasangan tak peduli. Pernikahan tak akan menghasilkan surga, tetapi justru neraka. Ketika umur sudah mulai menua, teman hidup akan menjadi tempat berbagi cerita dan mengurangi rasa kesepian. Di situlah hidup sebuah pernikahan menjadi bermakna. Semua memiliki rasa yang berbeda, tergantung waktu dan seberapa bisa pasangan menyatukan pemikiran berdasarkan empati ditambah dengan komitmen yang tinggi di tengah rutinitas hidup berkeluarga yang kadang membosankan. Bahkan ada yang menganggap penuh dengan kekangan. Tak bebas lagi seperti ketika masih lajang.

Masalah Ekonomi

Uang bukanlah segalanya, tetapi banyak hal yang bisa dilakukan kalau kita punya uang. Hancurnya sebuah kebahagian ketika menikah, beberapa disebabkan oleh perekonomian yang belum siap. Hidup saling berjauhan karena tuntutan pekerjaan. Tidak cukup biaya untuk bisa liburan bersama keluarga ketika penat dengan rutinitas. Tuntutan biaya kehidupan yang harus dipenuhi dan lain sebagainya.

Mempersiapkan Segalanya

Keputusan untuk menikah butuh persiapan yang matang. Tak hanya materi, tetapi mental. Jika kita belum punya pekerjaan dan memutuskan menikah, permasalahan tentu saja sudah ada di depan mata. Jika kita belum cukup dewasa dalam menerima perbedaan pendapat pasangan dan memutuskan untuk menikah, itu pun salah satu yang akan membuat keluarga dalam prahara. Bagaimana tidak, masalah kecil bisa besar jika tidak ada saling pengertian antara satu dengan yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>